Tampilkan postingan dengan label Fiksi [HIV/AIDS]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi [HIV/AIDS]. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 02, 2008

Mencintaimu, karena....(5)


Jadi, bagaimana perasaanku ke Julian?

Ah, kacau. Gara-gara percakapan tentang pengawas minum obat ARV kemarin, yang berbuntut aku berpikir 'bagaimana rasanya menjadi istri Odha -ralat- Julian', aku jadi salah tingkah sendiri. Dia hanya konsultan gratisku untuk program ini. yang berarti, setelah program selesai, hubungan kami selesai. Yang berarti, pembicaraan tidak penting di luar materi program berarti tidak profesional. Karena itu, kuputuskan untuk menjaga jarak lagi. Pertama, dengan memanggilnya 'Pak' lagi.

"Ada apa, Liv?" tanya Ju sedikit heran ketika aku menelponnya untuk rekomendasi pilihan keynote peaker untuk seminar HIV.
"Kok jadi Pak, manggilnya?" tanyanya geli. Aku mendesah tak sabar.
"Gak papa, jaga profesionalitas aja," jawabku ketus. Ju terdiam sejenak, agak kaget sepertinya.
"Memangnya, dengan kamu manggil aku Mas atau langsung nama, kita otomatis jadi nggak profesional?" dia membalik pernyataanku.
"Meminimalisasi rasa kurang profesional aja," jawabku sekenanya dan langsung pamit dengan ketus. Dan, seharian itu aku uring-uringan.
Di penghujung hari, aku sudah melukai hati semua rekan kantorku dengan perkataan kasar dan ketusku dengan alasan tidak jelas. Dan semua berpikir, saat itu aku sedang menstruasi. Bahkan, Agus menebakku sedang menjalani masa pre menopause. Sial..tapi terserah apa kata mereka!!

Yang penting, aku sedang kesal!!
Aku sedang gundah!!
Aku sedang mengingkari...
Mengingkari..
Mengingkari..

Apa, Liv?
Ketertarikanmu kepada Ju secara personal?

Nah, itu yang membuatku gundah. Sebenarnya aku tertarik pada Ju karena murni pribadinya atau karena status HIV nya -yang positif- yang malah membuatku semakin lekat?
Dia membalikkan ide dan bayanganku tentang profil seorang Odha yang tidak berdaya. Dia gambaran sosok Odha yang berdaya dan inspiratif. I'm captured. I get trapped. Oleh 'pesona' nya. Dan aku jadi gundah. rasa ini mau kubawa ke mana?

Beberapa hari aku tidak menghubungi Ju, dan dia menghubungiku lebih dahulu dalam seminggu ini. Lewat telepon.
"Ya, hallo," formal, karena yang terpampang di layar adalah nama asing. Aku tidak menyimpan nomer Ju -belum-, karena selama ini telpon kami dari kantor ke kantor.
"Liv," ujarnya singkat. Hatiku mencelos. Ju!
"Ya," balasku juga singkat, menutupi debaran hatiku.
"Gimana perkembangan progam untuk Hari AIDS mendatang?" aku terdiam sejenak.
"Baik, Pak," bertahan dalam profesionalisme tak jelas,"semua pembicara sudah dihubungi,"
"Untuk pembicara dari kepolisian tentang narkoba, sudah dapet?" tanyanya, seperti berusaha mengabaikan panggilan 'Pak' ku padanya.
"Hmm..sudah masuk sih suratnya, tapi konfirmasinya masih dua hari lagi,"
"Coba hubungi Pak Ritongga, Liv. Beliau Kasatserse untuk Narkoba. Aku kenal baik dengannya,"
"Okay, terimakasih, Pak," case closed. Kami sama-sama terdiam.
"Liv," akhirnya Ju bersuara.
"Ya, Pak?" jawabku.
"..aku kangen,"

Dan aku terpaku.

Selasa, April 08, 2008

Gilaaa...

"Waaaaaa....," aku terlonjak mendengar teriakan itu. Bergegas aku berlari masuk ke kamar Tyo, mencari apa gerangan yang membuatnya berteriak sedemikian keras. Di kamar, aku mendapati Tyo menutupi kepalanya dengan bantal, dan berteriak di dalam kapuknya. Kusentak bantal yang menutupi mukanya.
"Heh, dodol, ngapain sih kamu teriak gitu? Ngagetin orang, tau!" gerutuku. Bukan apa-apa, yang pertama aku kuatir adalah, lokasi kost Tyo ini bersebelahan dengan rumah pak RT. Dan tadi waktu aku memarkir mobil dan keluar menuju kamar Tyo, ada bu RT di depan rumah -sedang menyapu- dan aku bersapa dengannya. Itu berarti, orang sebelah kost tahu siapa yang di sini. Kalau tiba-tiba Tyo berteriak seperti itu, mereka pasti berpikir bahwa aku yang ngapa-ngapain Tyo. Pencemaran nama baik untukku.
"Waa..," teriakannya terputus setelah menyadari di mukanya tidak ada peredam lagi. Lalu dia nyengir lebar. Dengan sebal, kulemparkan bantal ke mukanya lalu beranjak menuju pintu, mau pulang.
"Eit eit...Shan, tunggu.. aku cuma becanda kok teriaknya..," Tyo bangkit dari tempat tidurnya dan menahan tanganku. Aku merengut.
"Becandanya gak tepat, tau. Lagi mikir nih," ujarku galak.
"Mikir? Mikirin aku kan? Kan? Kan?" paksanya kocak. Aku semakin merengut. Sebenarnya untuk menyembunyikan senyumku melihat tampang memelasnya.
"Iya jelas, mikirin gimana cara nolak kamu. Udah ngotot, maksa, idup, lagi,"
Tyo terkekeh.
"Shani sayang.. jadi pusing kan mikirin itu? Makanya nggak usah dipikirin deh.. Terima saja aku..," aku memutar badan, menghadapinya.
"Jangan bercanda lagi deh, Yo! Aku nggak mau kamu isengin lagi. Cape, tau!"
"Siapa yang bercanda?"
"Ya kamu! Buat apa bilang 'aku cinta kamu', 'mau jadi suamimu' seperti itu? Bukan candaan yang bagus, tau!"
"Siapa yang bercanda?"
"Ya kamu!"
"Kata siapa aku bercanda?"
"Kata....,"
Kalimat itu menggantung di udara antara wajahku dan wajahnya. Tyo menyeka mataku dengan sayang. Wah, tanpa sadar aku menangis. Mendapat sentuhan tangannya, tangisku malah menjadi. Sial..
Tyo menarik kepalaku ke dadanya. Sesaat aku memuaskan isakanku.
"Siapa yang bercanda, Shani? Kamu tahu, aku mengatakan itu lebih dari seratus kali untuk meyakinkanmu. Tapi kamu yang membentengi dirimu dengan berusaha mempercayai kebohongan yang kauciptakan sendiri bahwa omonganku itu canda. Padahal aku sudah meyakinkan berkali-kali kan?" ujarnya lembut.
"Harus dengan cara apalagi Shani?" aku semakin terisak.
"Ya..tapi..tapi.. masa kamu serius?" tanyaku terbata.
"Kenapa nggak?"
"Kok kenapa? Ya karena..karena..," aku menarik ingusku.
"..karena aku positif, mantan junkie..orang tua mana yang mau aku jadi menantunya? Cowok mana yang mau aku jadi istrinya?"
"..orangtuaku. Dan cowok itu, aku," sahutnya tegas. Huuuu..uuhh.. aku menangis makin keras.
"Hussh..sayang, kalau kamu nangis begini kok kayak cewek beneran ya?" goda Tyo sambil mengelus punggungku dengan sayang. Aku terpaksa tertawa. Ya, aku jarang sekali nangis. Bahkan dulu waktu didiagnosis HIV positif aku nggak menangis. Aku menangis karena ibu pingsan mendengarnya, lima tahun lalu.
Beberapa saat, isakanku mereda. Tyo mengambilkan segelas air.

"Kenapa kamu memilihku? Kamu cakep, negatif, insinyur, dan banyak cewek mau sama kamu. Kenapa aku?"
"Karena kamu cantik, positif, psikolog, banyak cowok mau sama kamu..," dia mengecup keningku.
"Karena kamu Shani. Shani yang luar biasa. Positif HIV dan positif banyak hal. Itu sudah cukup untuk membuatku jatuh cinta sejak pertama kali ketemu,"
"Tapi bersamaku kamu akan repot..untuk punya anak pun kita harus atur..," ujarku masih agak terbata.
"Buat apa aku ikut pelatihan HIV/AIDS kalau untuk itu pun aku harus keberatan? Dan anak bagiku nomer dua. Nomer satu adalah kamu, kamu, dan kamu," dia mendekati wajahku.
"Aku mau mendampingimu di sepanjang hidupku. Apapun risikonya. Kubeli satu truk kondom kalau perlu," aku tersenyum, dan Tyo mencium senyumku.
"Jadi..," godanya
"..apa jawabannya, Shani?"
Aku berpikir.
"Jawabannya...,"
"Kamu gilaaa, tau!!!" Tyo gantian merengut, lalu merengkuh pipiku.
"Jawab yang bener...," desisnya sok galak, dua sentimeter di depan mataku.
"Iya deh..mau..mau..aku mau nikah sama kamu, mau banget malah..," jawabku akhirnya.
Tyo bersorak, tertawa kegirangan dan menghujaniku dengan ciumannya.

Ah, untung aku menemukan satu orang gila di dunia ini... terimakasih Tuhan!

Rabu, April 02, 2008

Simpangan Jalan Kita

Malam merayap, Fatria bergulung-gulung di kasurnya, gelisah.
"Say, tidurlah, kok berisik amat sih," gerutu Nan, teman sekamar dan sekasurnya. Fat menghentikan letupan kegelisahannya sejenak, tapi kemudian helaan nafas panjang yang berkali-kali terdengar menggelitik kuping Nan.
"Kenapa? Kalau kepanasan hidupin aja tuh kipas anginnya, tapi rabrakin dinding ya. Pilek nanti aku," dia membuka kelopak matanya -sedikit- lalu pejam lagi. Fat terdiam sejenak dan menahan helaan nafasnya. Akhirnya dia tidak tahan lalu beranjak keluar kamar, ke beranda.
Dibukanya kotak pesan di cell phone nya, dan mendapati sederetan nama Raka terpacak di sana. Dia menyentak nafasnya, kesal, tapi ada rasa rindu mendesak rongga dadanya.

"Fat, kamu baru apa?" awalnya begitu. Sesaat dia terdiam. Nama Raka sudah tergeser dari posisi kotak masuknya karena saking lamanya dia nggak kirim kabar.
"Baru pulang dari kantor, dan kangen Jogja," tulisnya. Dan suddenly kangen kamu.
"Cuma Jogja yang dikangenin?" Fat menggaruk kepalanya, mendapati rambutnya sudah agak memanjang dibanding tiga bulan yang lalu, saat pertemuannya terakhir dengan Raka.
"Kangen Jogja dan...," Fat terdiam sejenak ,"..nggak krasa?" tulisnya.
"Dadaku sakit. Aku mau krasa tapi takut ge er," balas Raka. Fat berdebar-debar. Setelah sekian lama Raka menutup gerbang komunikasi mereka, mengapa malam ini dia datang lagi dan menumbuhkan segala rasa yang dulu pernah hampir berkembang penuh? Fat mulai parno, jangan-jangan Raka iseng.
"Kenapa dadamu sakit?" semoga bukan karena virus yang enam tahun lalu terdeteksi ada di tubuhnya. Virus yang menurunkan kekebalan tubuhnya, yang dulu diklaim tidak ada obatnya.
"Karena aku jatuh cinta. Dengan seorang wanita yang tidak bisa kumiliki," Fat merasakan matanya memanas. Raka curhat dia jatuh cinta -entah dengan siapa- kepadanya? Tahu nggak sih dia kalau hatinya sampai sekarangpun masih selalu bergetar mengingatnya? Tega sekali.
"Sama siapa?" Lucky her...
"Sama seorang wanita di ujung Indonesia, yang berjuang di tengah hutan, yang sudah mau menikah, ..," Fat terduduk tanpa sadar. Lemas kakinya. Itu aku, bisiknya dalam hati.

Kenyataan yang sekarang diketahuinya bahwa Raka masih menyimpan bara itu di dadanya untuk Fat membuatnya berdebar tanpa henti setelah percakapan via SMS itu. Sekarang, keinginannya untuk menelpon Raka sangat besar. Setelah ragu beberapa saat, dia men-dial nomer yang dihafalnya di luar kepala itu dan..

"The number you are callin is busy..please try again..," sial, jam segini memang jaringan baru crowded karena iklan promosi murah itu. Provider ini full of customer -dampak berhasilnya advertising mereka.
Ratusan kali mencoba, men-dial, dari posisi duduk, berdiri, jongkok, nangkring di pohon jambu, bersila di lantai beranda...

Nihil.
Provider itu tidak berbaik hati mengerti usahanya untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. Apalagi letak rumah dinas yang diberikan pemerintah Papua ini terlindungi pohon-pohon besar.

Dengan putus asa dia membuang nafas dan menghempaskan diri di kursi rotan.
"Raka..Raka..," desahnya pelan.
Raka adalah pasiennya yang pertama, HIV positif. Sejak awal dia tidak menyangka -ketika hendak mengobati infeksi jamur di telinganya- sampai orang itu membuka sendiri statusnya untuk keamanan dirinya. Padahal, lewat infeksi telinga pun sebenarnya virus itu tidak menular. Hanya, kata Raka waktu itu, dia sedang dalam pengobatan virus -terapi antiretroviral- sehingga dia harus memberitahukan ke dokternya karena siapa tahu ada interaksi antara obat ARV dan obat telinga. Dengan tersenyum Fat menjawab, semua aman, dan membatin untungnya aku kemarin mengikuti short course tentang HIV.
Sejak empat bulan ditempatkan di puskesmas ujung Papua oleh pemerintah pusat, Fat belum perah menjumpai pasien HIV positif walau Odha Papua banyak. Termasuk concentrated area di Indonesia. Sekarang, Odha pertama yang dijumpainya di Puskesmasnya malahan orang Jogja -hometownnya- yang adalah aktivis HIV dan sedang dalam perjalanan studi banding.

Raka itu hidup, dia penuh semangat, dia memandang dunia dengan positif seiring dengan statusnya, dan tidak segan dia membagikan pengetahuannya, termasuk mempersilakan Fatri mempelajarinya sebagai atlas hidup HIV.

Dan Fat jatuh cinta padanya.

"Aku juga, dok. Tapi..," dia menggenggam jari Fat lembut.
"Kamu sudah tunangan, enam bulan lagi menikah, dan aku tidak mau dan mampu mengganti posisi tunanganmu. Semua yang kau perlukan sudah ada: keamanan, status sosial yang jelas, restu kedua keluarga, ..," Fat diam dan mencoba tetap tegar dengan wajah basah.
"Aku tidak bisa memberikan itu semua. Risiko mu besar jika berjalan bersamaku. Untuk punya anak pun kita harus berpikir banyak kali," dia tersenyum sedih namn tetap manis.
"Dan rasa cintaku tidak mengijinkan hal itu menimpamu, dok..,"

Sekarang Raka membiarkan Fat tahu bahwa dia masih mencintainya.
Beberapa bulan lagi Fat menikah.
Dan malam ini Fat sadar bahwa bara itu masih menghangat.

Burung hantu bertengger di pepohonan ujung jalan sana, ber -uhu dengan sedih, mengiringi aliran sungai kecil di ujung matanya...

Rabu, Maret 26, 2008

Mencintaimu, karena... (4)

Empat

Hubungan kami semakin intens. Dengan alasan pekerjaan, konsultasi program, minta jurnal HIV, dan banyak lagi alasan (ehm..aku lebih suka bilang 'motivasi' ya. Kalau 'alasan', kesannya aku mencari-cari. Padahal kadang memang benar-benar karena alasan..ups..motivasi kerjaan). Sejauh ini aku sangat terbantu oleh dukungan Ju, baik segi contain ilmu maupun guideline program. Aku bukan tenaga kesehatan (aku lulusan psikologi), seperti yang sudah pernah kubilang, jadi pengetahuan tentang 'penyakit ini' minim sekali.

"Bu Liv, aku sudah posting jurnal terbaru dari Clinical Care Option," ketiknya di ruang chat kami. Saat itu aku sedang membuka postingan Ju yang terdahulu tentang tes HIV dengan air liur yang sekarang sedang heboh dibahas. Padahal katanya, air liur tidak mengandung cukup virus untuk menularkan. Aku garuk-garuk kepala. Bisa heboh lagi dong masyarakat kalau dengan simpelnya mereka menyimpulkan bahwa air liur bisa menularkan. Padahal sudah susah payah dikampanyekan bahwa HIV hanya bisa bular lewat empat cairan: darah dan produknya (sel darah komplit, sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dll), cairan kelamin pria, cairan kelamin wanita, dan air susu ibu. Selain itu nggak bisa. Kampanye itu supaya stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS berkurang, dan mereka bisa menerima para Odha itu di masyarakat tanpa takut bersentuhan, berciuman, berpelukan, berbagi gelas dll dengan mereka.

Kuketik balas, "Thanks, Mas..," kemajuan kan, aku mulai memanggilnya 'mas', bukan lagi
'pak' seperti kemarin. Ju saja yang masih rikuh memanggilku langsung nama atau 'dek'.
"Aku masih bingung tentang isyu OraQuick -alat bantu diagnosis dengan sampel air liur- kemarin. Memangnya virus itu bisa nular lewat air liur ya Mas?"
Ju membalas dengan icon berpikir.
"Itu kan menurut penelitian, Bu. Coba nanti aku cari lagi dasar teorinya atau penelitian terkaitnya ya.."
Aku balas dengan icon senyum dan jantung hati. Maksudnya??? Hmm.. thanks to you aja Ju..

Semenjak emailku mulai dipenuhi dengan postingan Ju tentang HIV, pikiranku semakin terbuka. Ternyata HIV/AIDS -dan pengidapnya- tidak semengerikan bayanganku semula. Pikirku dulu nih penyakit mematikan sekali dan yang sudah tertular tidak berhak hidup lagi, ternista, sakit-sakitan, dan pasti orang yang nggak benar. Sama dengan pikiran banyak orang, setiap mendengar kata HIV/AIDS, yang terbayang adalah buruk, buruk, dan buruk.

Ju mengubah pandanganku pelan-pelan. HIV - Human Immunodeficiency Virus- ini bukan virus yang dengan mudah menular, dan bukan virus yang amat-sangat-berbahaya. Dia gampang mati di luar tubuh manusia (jadi gosip jarum suntik di bioskop itu bohong ya Ju? Aku sempat 3 bulan nggak berani ke bioskop saking takutnya). Penularannya pun dengan cara-cara tertentu saja, misalnya tranfusi darah yang tidak diskrining dulu, menerima donor organ yang telah terinfeksi, jarum suntik yang berganti-ganti pada pelayanan kesehatan yang tidak standar (tapi minimal sekali kan, sekarang satu pasien satu jarum suntik), pada pengguna narkotika suntik, pada orang yang sering berganti pasangan tanpa menggunakan kondom, dan dari ibu ke bayinya. Jadi, kalau hanya sentuhan, salaman, ciuman bahkan, menggunakan toilet bareng, makan dari piring yang sama, berbagi gelas, berenang bersama, ... aman. Dan setelah seseorang terinfeksi HIV, kondisi tubuhnya tidak langsung menurun seperti yang kubayangkan dulu. Ada periode laten (ada virusnya tapi tak bergejala), selama lima sampai duabelas tahun. Saat itu Odha bisa beraktivitas biasa. Atau untuk Odha yang rajin menjaga kesehatannya, status ketahanan tubuhnya bisa terjaga lebih lama lagi. Misalnya rajin olahraga, stop drugs, no smoking, no alkohol...

"Aku tahu positif HIV sejak sembilan tahun yang lalu, waktu masih semester satu kuliah,"
"Boleh tahu dari mana?"
"....aku suka challange. Aku suka coba-coba, dan aku menikmati rasa addict itu"
"Jadi.. lewat jarum suntik atau sex?"
Icon tertawa terbahak-bahak "I always play save sex, Bu. Lewat opsi pertama"
Aku tercekat sebentar.
Liv.. apa yang kaupikirkan? Ju masih virgin? Usianya pertengahan tigapuluh lima dan dia lama di kota besar. Anything could be happen, kan? Aku sedikit kecewa.

Hari lain, di ruang chat.
"Sebenarnya satu hal yang membedakanku denganmu hanya satu, Bu. Kamu punya sistem kekebalan tubuh yang baik, aku tidak"
Aku me-recall ingatanku, HIV itu menyerang sel darah putih -sel pertahanan tubuh manusia- sehingga sistem imunitas pengidap akan menurun
"Berapa CD 4 terakhirmu, Mas?"
CD 4 itu satu bagian sel darah putih yang digunakan sebagai penanda tingkat kekebalan tubuh Odha.
"Hmmm.. duaratus lmapuluhan lah. Usahaku cukup keras untuk itu (icon senyum)"
"Great (icon tepuk tangan). Pertimbangan mulai ARV?"
Antiretroviral atau obat yang bermanfaat untuk menekan laju perbanyakan HIV ini mulai dikonsumsi saat CD 4 seorang Odha ada pada angka duaratus (berarti, anggapan orang bahwa HIV nggak ada obatnya itu salah. HIV/AIDS ada obatnya, namun tidak menyembuhkan, itu yang benar.)
"Tunggu dulu deh, tanggung jawabnya besar. Aku harus benar-benar patuh, minum obat itu tiap hari seumur idup. Karena tau kan Bu, kalo minumnya bolong-bolong, virusku nanti kebal dan diperlukan obat yang lebih kuat lagi. Lebih mahal en efek sampingnya juga lebih.."
"Makanya cari PMO dong Mas.." Pengawas Minum Obat, orang yang mengingatkan Odha supaya teratur minum obat.
(Icon muka sedih) "Sampai lupa cari nih. Siapa yang mau kurepotkan dengan status HIVku?"
Walau nggak diucapkan, kami tahu bahwa ini pembicaraan tentang spouse.
"Ak..." aku terdiam sebentar, lalu kupencet backspace.
"Hmm.. sabar Mas, pasti ada..."

Aku?
Sesaat tadi keinginanku sangat besar untuk mencalonkan diri jadi PMO nya. Dan itu berarti jadi pendamping hidupnya. Lepas dari perasaan Ju bagaimana ke aku, hal itu kadang terpikir selintas di sela persiapanku kampanye hari AIDS ini. Sesuatu yang berkaitan dengan HIV/AIDS selalu mengingatkanku padanya.
Bagaimana rasanya menjadi istrinya?

Tunggu.
Sebenarnya perasaanku ke dia bagaimana??

Senin, Maret 24, 2008

Mencintaimu, karena... (3)

Tiga

Sekarang, setelah Ju ada di depanku aku belum juga berani bertanya. Pertama, karena itu tidak profesional, kedua karena aku tidak menemukan redaksional yang tepat untuk menyalurkan ke-penasaran an ku, ketiga.. debaran dadaku melebihi marching band tujuhbelasan dan itu membuatku susah bicara.

Padahal jarak kami terpisah ratusan kilo.
Ya, kami ketemuan by phone.

"Jadi, approval Pak Frank sudah turun?" suara Ju di seberang sana terdengar bersemangat. Dan getaran semangat itu menjalar lewat kabel telepon, dan menghangatkan dadaku tanpa kuduga.
"Iya, Pak Frank senang dan mendukung promosi kesehatan terkait isyu ini. Di sini masih tabu sih. Tapi saya masih belum tahu akan seperti apa bentuknya. Apakah kemasannya bisa sama dengan topik lain?" tanyaku.
"Hmm..," Ju terdiam sejenak, "Memang tidak bisa sefrontal topik lain, di mana semua fakta dibeber tanpa kecuali. kalau mau adakan promkes isyu ini kita harus assessment dulu targetnya. Untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, kalangan ulama, pendekatannya beda lho. Salah mengatur strategi promosi, bisa kacau nanti. Capaiannya nggak kena dan stigma masyarakat tentang HIV/AIDS makin menjadi-jadi," ujarnya. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba panas. Pekerjaan rumahku bertambah, menyusun logical framework, adakan survei singkat, dan belajar (hei, aku awam tentang HIV/AIDS).
"..bu Livita?" guman Ju dari ujung sana. Aku tersadar bahwa telah membiarkan pembicaraan menggantung selama beberapa menit.
"Ehem.. ya, Pak? Oh iya.. ya.. akan saya survei dulu nanti..," suaraku melemah. Dan nampaknya Ju menangkap kegalauanku.
"Anda sudah berusaha untuk mengegolkan program HIV/AIDS. Jika tidak keberatan, saya akan jadi asisten Anda untuk konsep dan contain..," aku menahan nafas, "..For free," tambahnya diiringi derai tawanya (yang ternyata renyah. Kok aku bisa baru tahu? Ah ya. Kemarin situasi kami kaku, tidak ada waktu untuk mempresentasikan tawanya). Aku ikut tertawa. Perasaanku melega, dan pertanyaan itu tiba-tiba terlontar.
"Terimakasih Pak. Oh iya, dulu Anda tertularnya bagaimana?" setelah itu kugigit bibirku kuat-kuat. Bodoh Liv.. kamu belum tahu siapa dia, tapi sudah mengajukan pertanyaan yang -mungkin saja- sensitif?
Dan sayangnya jawaban Ju bukannya meredakan penasaranku, tapi semakin mengkuadratkannya.

"Hmm.. kita masih punya banyak waktu untuk membuka lembar itu pelan-pelan. Kalau kamu nggak keberatan," 'kamu'. Bukan Anda.

Tenggorokanku tercekat.
"Ya.. aku nggak keberatan," 'aku'. Bukan saya.

Setelah itu, aku merasakan tingkat ketertarikanku pada topik ini meningkat, bukan saya karena ternyata permasalahan di dalam isyu HIV/AIDS sangat kompleks, tapi juga karena Julian. Hubungan kami semakin intens, diawali dari diskusi tentang program, hingga kemudian ke hal personal.

Aku tertarik pada Julian. Atau pada isyu HIV/AIDS?

Aku tertarik pada isyu HIV/AIDS. Atau pada Julian?

Selasa, Maret 18, 2008

Mencintaimu karena... (2)


Dua


Aku membalikkan badan dengan resah. Jarum pendek jam di mejaku sudah di angka dua, tapi mataku belum mau pejam. Setiap menutup, yang terbayang adalah wajah Julian. Padahal dia sudah pulang seminggu yang lalu, meninggalkan kesan mendalam yang entah bagaimana menawan pikiranku belakangan ini.


Julian itu seorang HIV positif.


Dia orang pertama yang mengaku langsung di depan mataku, dengan gayanya yang hmm..cukup elegan? Satu pertanyaan yang terjawab itu melahirkan rentetan pertanyaan di belakangnya. Dari mana Julian bisa tertular? Apa yang dilakukannya waktu tahu dia tertular? Bagaimana dia merespon statusnya di kesehariannya? Bagaimana dia mempublish dirinya pada teman sekantornya? Toh sekarang Julian masih kerja menjadi dosen dan peneliti, kuliah S2 nya sudah selesai (ini kutahu juga dari CVnya), kehidupan sosialnya nampak tetap matang...


Stop, Liv. Memangnya, apa yang kamu pikirkan dari seorang HIV positif? Bahwa dia kehilangan seluruh dunianya? Hidupnya selesai? Langit mendung kelabu tanpa mentari? Dikucilkan teman-teman, diusir dari tempat kerja?


Ya, itu yang 'seharusnya' terjadi pada orang HIV positif kan? Sebagai satu akibat perbuatannya sendiri, sebagai hukuman alam. Tapi kenapa hidup Julian masih baik-baik saja?? Aku tidak habis pikir. Kubalikkan badanku lagi, kuraih guling Teedy Bearku, kupeluk erat.


Ah ya... jangan-jangan Julian membohongi semua orang, menyembunyikan statusnya, lalu bersikap nothing happen. Maka dari itu, dunianya tidak berubah... Aku mengangguk puas. Keterangan ini menjawab kebingunganku. Julian pasti membohongi dunia tentang statusnya.


Tapi, kalau dia menyembunyikan statusnya, kenapa dia membukanya padaku dalam pertimbangan cepat -sekian menit saja? Aku tidak lihat kebimbangan saat dia mengatakan statusnya. Sama muatannya ketika orang mengaku 'ya, aku seorang perokok'. Ringan.


Ah, aku makin pusing. Hipotesisku bahwa Julian membohongi dunia mengabur lagi.


Kulirik jam, sudah hampir jam tiga. Dengan terpaksa kututup mataku dan sekuatnya berusaha melenyapkan bayangan Julian dan menelan segala rasa penasaranku.
Besok akan kutanyakan langsung padanya, janjiku dalam hati.

Mencintaimu karena... (1)


Satu

Aku terduduk di kursi depan komputer sejak tigapuluh menit yang lalu, sejak email yang berisi attach foto Julian sampai. Foto itu sudah kubuka, dan senyum yang merekah di wajah Ju menawan pandangku untuk beberapa saat. Ini wajah Ju tiga tahun yang lalu, ketika dia baru saja mengetahui status ketahanan tubuhnya.

"Dear Liv, foto ini diambil di Aussie waktu aku diundang konferensi AIDS Asia Pasifik. Pertama kalinya aku berani keluar dan open my status..." tulisnya di emali, menghantarkan fotonya.

Julian masih nampak tegap dan gemuk, seri pipi nya merah muda, dan matanya berbintang. Latar belakangnya adalah riuh rendah peserta konferensi dari berbagai negara, beberapa dari mereka tampak menggoda Ju dengan ikut nampang di foto. Ada yang menjulurkan lidah, melambaikan tangan, dan tangannya menunjukkan lambang victory terbalik -menggambarkan bentuk pita peduli. Aku tertawa kecil mengamati mileu suasana dia waktu di foto itu. Dan mengamati dia.

"Liv, laporan kegiatanmu untuk kampanye Hari AIDS kemarin masuk hari ini ke aku ya," suara bariton Agus memaksaku melepas pandangan dari kedip komputer. Aku mengangguk patuh. Beberapa hari yang lalu, aku dan teman-teman mengadakan kampanye pengetahuan HIV/AIDS untuk mahasiswa akademi kesehatan seluruh kota dan juga masyarakat luas. Agus tersenyum puas, berhasil menanamkan deadline padaku. Lalu sebelum pergi ke mejanya sendiri, dia mengomentari foto Ju yang belum sempat ku minimize.
"Halah jeng.. kupikir sibuk mikir laporan naratif.. ternyata melolotin foto pacarnya..,"
"Eit.. bukan pacar! Dia.. dia..," aku kebingungan sendiri dan garuk-garuk kepala. Agus terbahak dan mengacak rambutku.
"Ngeles..," aku menekuk bibirku, have no words to say.

Pacar? Julian?


Aku kembali menekuri fotonya untuk beberapa saat, lalu menghembuskan nafas panjang. Ku save as foto itu di komputer, kuklik tanda silang di ujung kanan jendela, dan berniat merampungkan laporan naratif yang diminta Agus, staf infokom kantorku.


Peringatan Hari AIDS 1 Desember tahun ini di kota kecil pinggir pantai ini cukup meriah. Isyu HIV/AIDS belum banyak dihembuskan di sini, dan aksi kampanye kemarin cukup membuat gebrakan. Aku tersenyum sendiri mengingat awal dari aksi ini. Dari 'kompor' Julian.


"Bu Livita, lembaga Anda itu kompeten di bidang promosi kesehatan. Mengapa tidak turut mengangkat isyu HIV di kota ini? Saya amati di sini masih sunyi hening dan sok aman, padahal saya tahu ada kantong-kantong pramunikmat dan pecandu narkotik suntik di sini," katanya tenang di balik kepulan tipis asap rokoknya, enam bulan lalu. Aku mengerutkan dahi. Pria yang bicara di depanku ini adalah pembicara yang diundang Dinas Kesehatan untuk memberi sesi surveilans dan epidemiologi dua hari ini. Kantorku salah satu penyandang dananya, jadi malam ini aku 'terpaksa' menemaninya jamuan dinner di salah satu resto seafood tepi pantai.


"Isyu HIV itu sesuatu yang sensitif, Pak. Dan bukan suatu kebutuhan untuk saat ini," elakku. Di benakku terpampang pula puluhan program yang harus kukelola beberapa bulan ini, dan pencabangan untuk ikut mempromosikan isyu HIV akan membelah otakku jadi bagian yang lebih kecil lagi. Mau tidur berapa jam sehari aku? Sekarangpun tidurku kurang dari lima jam.


"Walau saya sudah kemukakan bahwa di sini ada kantong risiko? Dan mereka lebih berisiko lagi karena tidak tahu info yang benar tentang HIV/AIDS. Bagaimana menularnya, bagaimana mencegahnya, bagaimana gejalanya, pemeriksaannya... Mereka -saya yakin- baru sekian persen yang tahu kalau perilakunya itu potensial mengundang virus itu masuk tubuh mereka," pembicara yang bernama Julian Adi Baruno (aku ingat waktu baca CV nya di resume panitia kemarin) itu masih mencoba menawar.


"Iya, saya tahu," bohong, sebenernya buatku itu bukan urusanku. Toh aku nggak melakukan tindakan berisiko, "Tapi di sini saya hanya field officer, petugas lapangan. Jadi untuk memperluas suatu program promosi kesehatan itu perlu approval staf di atas saya," bohong lagi. Di kota kecil ini, aku adalah manajer programnya. Julian menatapku dari balik kacamata half-framenya. Aku mencoba menantang tatapannya. Beberapa saat bertatapan, Julian yang mengalah menundukkan kepalanya. Sembunyi-sembunyi kuhembuskan nafas lega. Tanpa kusadari, debaran hatiku meningkat intensitasnya selama beberapa saat mata kami bersirobok tadi.


"Baik, akan saya coba untuk menghubungi Pak Franki," aduh! Kenapa dia menyebut nama direktur pusat lembagaku? Jangan-jangan dia kenal dengan Bapak? Mungkin saja karena dia sering diundang jadi pembicara ke mana-mana. Kalau dia ngomong dengan Pak Franki, aku akan nampak bodoh dengan menolaknya sementara aku tahu Pak Frank orang yang inovatif. Perluasan bidang promosi kesehatan pasti menggairahkannya. Aku mulai melonggarkan tawar-menawar ini.


"Ehm...baik. Nanti saya coba beri usulan ke pusat," Julian tersenyum tipis. Aku menggerutu dalam hati. Puas? Puas? Puas? Kubayangkan wajah Thukul waktu membatinnya.


Makan malam selesai dengan tanpa riak gelombang yang berarti. Negosiasi Julian denganku berhasil. Sebelum kuantar dia kembali ke hotel tempatnya menginap, aku menanyakan satu hal yang mengganjalku dari pertama.


"Maaf, boleh saya tahu mengapa Anda nampak interes dengan isyu AIDS? Anda kan seorang akademisi dan peneliti, tidak ada kaitannya dengan HIV/AIDS?" Julian menelan tegukan terakhir jus kelapa mudanya sebelum memberiku jawaban yang membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam.


"Ada sekali, Bu," dia mencari titik pusat mataku, memakunya, dan menjawab perlahan,"..saya seorang HIV positif,"