Rabu, Maret 26, 2008

Mencintaimu, karena... (4)

Empat

Hubungan kami semakin intens. Dengan alasan pekerjaan, konsultasi program, minta jurnal HIV, dan banyak lagi alasan (ehm..aku lebih suka bilang 'motivasi' ya. Kalau 'alasan', kesannya aku mencari-cari. Padahal kadang memang benar-benar karena alasan..ups..motivasi kerjaan). Sejauh ini aku sangat terbantu oleh dukungan Ju, baik segi contain ilmu maupun guideline program. Aku bukan tenaga kesehatan (aku lulusan psikologi), seperti yang sudah pernah kubilang, jadi pengetahuan tentang 'penyakit ini' minim sekali.

"Bu Liv, aku sudah posting jurnal terbaru dari Clinical Care Option," ketiknya di ruang chat kami. Saat itu aku sedang membuka postingan Ju yang terdahulu tentang tes HIV dengan air liur yang sekarang sedang heboh dibahas. Padahal katanya, air liur tidak mengandung cukup virus untuk menularkan. Aku garuk-garuk kepala. Bisa heboh lagi dong masyarakat kalau dengan simpelnya mereka menyimpulkan bahwa air liur bisa menularkan. Padahal sudah susah payah dikampanyekan bahwa HIV hanya bisa bular lewat empat cairan: darah dan produknya (sel darah komplit, sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dll), cairan kelamin pria, cairan kelamin wanita, dan air susu ibu. Selain itu nggak bisa. Kampanye itu supaya stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS berkurang, dan mereka bisa menerima para Odha itu di masyarakat tanpa takut bersentuhan, berciuman, berpelukan, berbagi gelas dll dengan mereka.

Kuketik balas, "Thanks, Mas..," kemajuan kan, aku mulai memanggilnya 'mas', bukan lagi
'pak' seperti kemarin. Ju saja yang masih rikuh memanggilku langsung nama atau 'dek'.
"Aku masih bingung tentang isyu OraQuick -alat bantu diagnosis dengan sampel air liur- kemarin. Memangnya virus itu bisa nular lewat air liur ya Mas?"
Ju membalas dengan icon berpikir.
"Itu kan menurut penelitian, Bu. Coba nanti aku cari lagi dasar teorinya atau penelitian terkaitnya ya.."
Aku balas dengan icon senyum dan jantung hati. Maksudnya??? Hmm.. thanks to you aja Ju..

Semenjak emailku mulai dipenuhi dengan postingan Ju tentang HIV, pikiranku semakin terbuka. Ternyata HIV/AIDS -dan pengidapnya- tidak semengerikan bayanganku semula. Pikirku dulu nih penyakit mematikan sekali dan yang sudah tertular tidak berhak hidup lagi, ternista, sakit-sakitan, dan pasti orang yang nggak benar. Sama dengan pikiran banyak orang, setiap mendengar kata HIV/AIDS, yang terbayang adalah buruk, buruk, dan buruk.

Ju mengubah pandanganku pelan-pelan. HIV - Human Immunodeficiency Virus- ini bukan virus yang dengan mudah menular, dan bukan virus yang amat-sangat-berbahaya. Dia gampang mati di luar tubuh manusia (jadi gosip jarum suntik di bioskop itu bohong ya Ju? Aku sempat 3 bulan nggak berani ke bioskop saking takutnya). Penularannya pun dengan cara-cara tertentu saja, misalnya tranfusi darah yang tidak diskrining dulu, menerima donor organ yang telah terinfeksi, jarum suntik yang berganti-ganti pada pelayanan kesehatan yang tidak standar (tapi minimal sekali kan, sekarang satu pasien satu jarum suntik), pada pengguna narkotika suntik, pada orang yang sering berganti pasangan tanpa menggunakan kondom, dan dari ibu ke bayinya. Jadi, kalau hanya sentuhan, salaman, ciuman bahkan, menggunakan toilet bareng, makan dari piring yang sama, berbagi gelas, berenang bersama, ... aman. Dan setelah seseorang terinfeksi HIV, kondisi tubuhnya tidak langsung menurun seperti yang kubayangkan dulu. Ada periode laten (ada virusnya tapi tak bergejala), selama lima sampai duabelas tahun. Saat itu Odha bisa beraktivitas biasa. Atau untuk Odha yang rajin menjaga kesehatannya, status ketahanan tubuhnya bisa terjaga lebih lama lagi. Misalnya rajin olahraga, stop drugs, no smoking, no alkohol...

"Aku tahu positif HIV sejak sembilan tahun yang lalu, waktu masih semester satu kuliah,"
"Boleh tahu dari mana?"
"....aku suka challange. Aku suka coba-coba, dan aku menikmati rasa addict itu"
"Jadi.. lewat jarum suntik atau sex?"
Icon tertawa terbahak-bahak "I always play save sex, Bu. Lewat opsi pertama"
Aku tercekat sebentar.
Liv.. apa yang kaupikirkan? Ju masih virgin? Usianya pertengahan tigapuluh lima dan dia lama di kota besar. Anything could be happen, kan? Aku sedikit kecewa.

Hari lain, di ruang chat.
"Sebenarnya satu hal yang membedakanku denganmu hanya satu, Bu. Kamu punya sistem kekebalan tubuh yang baik, aku tidak"
Aku me-recall ingatanku, HIV itu menyerang sel darah putih -sel pertahanan tubuh manusia- sehingga sistem imunitas pengidap akan menurun
"Berapa CD 4 terakhirmu, Mas?"
CD 4 itu satu bagian sel darah putih yang digunakan sebagai penanda tingkat kekebalan tubuh Odha.
"Hmmm.. duaratus lmapuluhan lah. Usahaku cukup keras untuk itu (icon senyum)"
"Great (icon tepuk tangan). Pertimbangan mulai ARV?"
Antiretroviral atau obat yang bermanfaat untuk menekan laju perbanyakan HIV ini mulai dikonsumsi saat CD 4 seorang Odha ada pada angka duaratus (berarti, anggapan orang bahwa HIV nggak ada obatnya itu salah. HIV/AIDS ada obatnya, namun tidak menyembuhkan, itu yang benar.)
"Tunggu dulu deh, tanggung jawabnya besar. Aku harus benar-benar patuh, minum obat itu tiap hari seumur idup. Karena tau kan Bu, kalo minumnya bolong-bolong, virusku nanti kebal dan diperlukan obat yang lebih kuat lagi. Lebih mahal en efek sampingnya juga lebih.."
"Makanya cari PMO dong Mas.." Pengawas Minum Obat, orang yang mengingatkan Odha supaya teratur minum obat.
(Icon muka sedih) "Sampai lupa cari nih. Siapa yang mau kurepotkan dengan status HIVku?"
Walau nggak diucapkan, kami tahu bahwa ini pembicaraan tentang spouse.
"Ak..." aku terdiam sebentar, lalu kupencet backspace.
"Hmm.. sabar Mas, pasti ada..."

Aku?
Sesaat tadi keinginanku sangat besar untuk mencalonkan diri jadi PMO nya. Dan itu berarti jadi pendamping hidupnya. Lepas dari perasaan Ju bagaimana ke aku, hal itu kadang terpikir selintas di sela persiapanku kampanye hari AIDS ini. Sesuatu yang berkaitan dengan HIV/AIDS selalu mengingatkanku padanya.
Bagaimana rasanya menjadi istrinya?

Tunggu.
Sebenarnya perasaanku ke dia bagaimana??

Tidak ada komentar: