Sekarang, setelah Ju ada di depanku aku belum juga berani bertanya. Pertama, karena itu tidak profesional, kedua karena aku tidak menemukan redaksional yang tepat untuk menyalurkan ke-penasaran an ku, ketiga.. debaran dadaku melebihi marching band tujuhbelasan dan itu membuatku susah bicara.Padahal jarak kami terpisah ratusan kilo.
Ya, kami ketemuan by phone.
"Jadi, approval Pak Frank sudah turun?" suara Ju di seberang sana terdengar bersemangat. Dan getaran semangat itu menjalar lewat kabel telepon, dan menghangatkan dadaku tanpa kuduga.
"Iya, Pak Frank senang dan mendukung promosi kesehatan terkait isyu ini. Di sini masih tabu sih. Tapi saya masih belum tahu akan seperti apa bentuknya. Apakah kemasannya bisa sama dengan topik lain?" tanyaku.
"Hmm..," Ju terdiam sejenak, "Memang tidak bisa sefrontal topik lain, di mana semua fakta dibeber tanpa kecuali. kalau mau adakan promkes isyu ini kita harus assessment dulu targetnya. Untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, kalangan ulama, pendekatannya beda lho. Salah mengatur strategi promosi, bisa kacau nanti. Capaiannya nggak kena dan stigma masyarakat tentang HIV/AIDS makin menjadi-jadi," ujarnya. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba panas. Pekerjaan rumahku bertambah, menyusun logical framework, adakan survei singkat, dan belajar (hei, aku awam tentang HIV/AIDS).
"..bu Livita?" guman Ju dari ujung sana. Aku tersadar bahwa telah membiarkan pembicaraan menggantung selama beberapa menit.
"Ehem.. ya, Pak? Oh iya.. ya.. akan saya survei dulu nanti..," suaraku melemah. Dan nampaknya Ju menangkap kegalauanku.
"Anda sudah berusaha untuk mengegolkan program HIV/AIDS. Jika tidak keberatan, saya akan jadi asisten Anda untuk konsep dan contain..," aku menahan nafas, "..For free," tambahnya diiringi derai tawanya (yang ternyata renyah. Kok aku bisa baru tahu? Ah ya. Kemarin situasi kami kaku, tidak ada waktu untuk mempresentasikan tawanya). Aku ikut tertawa. Perasaanku melega, dan pertanyaan itu tiba-tiba terlontar.
"Terimakasih Pak. Oh iya, dulu Anda tertularnya bagaimana?" setelah itu kugigit bibirku kuat-kuat. Bodoh Liv.. kamu belum tahu siapa dia, tapi sudah mengajukan pertanyaan yang -mungkin saja- sensitif?
Dan sayangnya jawaban Ju bukannya meredakan penasaranku, tapi semakin mengkuadratkannya.
"Hmm.. kita masih punya banyak waktu untuk membuka lembar itu pelan-pelan. Kalau kamu nggak keberatan," 'kamu'. Bukan Anda.
Tenggorokanku tercekat.
"Ya.. aku nggak keberatan," 'aku'. Bukan saya.
Setelah itu, aku merasakan tingkat ketertarikanku pada topik ini meningkat, bukan saya karena ternyata permasalahan di dalam isyu HIV/AIDS sangat kompleks, tapi juga karena Julian. Hubungan kami semakin intens, diawali dari diskusi tentang program, hingga kemudian ke hal personal.
Aku tertarik pada Julian. Atau pada isyu HIV/AIDS?
Aku tertarik pada isyu HIV/AIDS. Atau pada Julian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar