
Aku terduduk di kursi depan komputer sejak tigapuluh menit yang lalu, sejak email yang berisi attach foto Julian sampai. Foto itu sudah kubuka, dan senyum yang merekah di wajah Ju menawan pandangku untuk beberapa saat. Ini wajah Ju tiga tahun yang lalu, ketika dia baru saja mengetahui status ketahanan tubuhnya.
"Dear Liv, foto ini diambil di Aussie waktu aku diundang konferensi AIDS Asia Pasifik. Pertama kalinya aku berani keluar dan open my status..." tulisnya di emali, menghantarkan fotonya.
Julian masih nampak tegap dan gemuk, seri pipi nya merah muda, dan matanya berbintang. Latar belakangnya adalah riuh rendah peserta konferensi dari berbagai negara, beberapa dari mereka tampak menggoda Ju dengan ikut nampang di foto. Ada yang menjulurkan lidah, melambaikan tangan, dan tangannya menunjukkan lambang victory terbalik -menggambarkan bentuk pita peduli. Aku tertawa kecil mengamati mileu suasana dia waktu di foto itu. Dan mengamati dia.
"Liv, laporan kegiatanmu untuk kampanye Hari AIDS kemarin masuk hari ini ke aku ya," suara bariton Agus memaksaku melepas pandangan dari kedip komputer. Aku mengangguk patuh. Beberapa hari yang lalu, aku dan teman-teman mengadakan kampanye pengetahuan HIV/AIDS untuk mahasiswa akademi kesehatan seluruh kota dan juga masyarakat luas. Agus tersenyum puas, berhasil menanamkan deadline padaku. Lalu sebelum pergi ke mejanya sendiri, dia mengomentari foto Ju yang belum sempat ku minimize.
"Halah jeng.. kupikir sibuk mikir laporan naratif.. ternyata melolotin foto pacarnya..,"
"Eit.. bukan pacar! Dia.. dia..," aku kebingungan sendiri dan garuk-garuk kepala. Agus terbahak dan mengacak rambutku.
"Ngeles..," aku menekuk bibirku, have no words to say.
Pacar? Julian?
Aku kembali menekuri fotonya untuk beberapa saat, lalu menghembuskan nafas panjang. Ku save as foto itu di komputer, kuklik tanda silang di ujung kanan jendela, dan berniat merampungkan laporan naratif yang diminta Agus, staf infokom kantorku.
Peringatan Hari AIDS 1 Desember tahun ini di kota kecil pinggir pantai ini cukup meriah. Isyu HIV/AIDS belum banyak dihembuskan di sini, dan aksi kampanye kemarin cukup membuat gebrakan. Aku tersenyum sendiri mengingat awal dari aksi ini. Dari 'kompor' Julian.
"Bu Livita, lembaga Anda itu kompeten di bidang promosi kesehatan. Mengapa tidak turut mengangkat isyu HIV di kota ini? Saya amati di sini masih sunyi hening dan sok aman, padahal saya tahu ada kantong-kantong pramunikmat dan pecandu narkotik suntik di sini," katanya tenang di balik kepulan tipis asap rokoknya, enam bulan lalu. Aku mengerutkan dahi. Pria yang bicara di depanku ini adalah pembicara yang diundang Dinas Kesehatan untuk memberi sesi surveilans dan epidemiologi dua hari ini. Kantorku salah satu penyandang dananya, jadi malam ini aku 'terpaksa' menemaninya jamuan dinner di salah satu resto seafood tepi pantai.
"Isyu HIV itu sesuatu yang sensitif, Pak. Dan bukan suatu kebutuhan untuk saat ini," elakku. Di benakku terpampang pula puluhan program yang harus kukelola beberapa bulan ini, dan pencabangan untuk ikut mempromosikan isyu HIV akan membelah otakku jadi bagian yang lebih kecil lagi. Mau tidur berapa jam sehari aku? Sekarangpun tidurku kurang dari lima jam.
"Walau saya sudah kemukakan bahwa di sini ada kantong risiko? Dan mereka lebih berisiko lagi karena tidak tahu info yang benar tentang HIV/AIDS. Bagaimana menularnya, bagaimana mencegahnya, bagaimana gejalanya, pemeriksaannya... Mereka -saya yakin- baru sekian persen yang tahu kalau perilakunya itu potensial mengundang virus itu masuk tubuh mereka," pembicara yang bernama Julian Adi Baruno (aku ingat waktu baca CV nya di resume panitia kemarin) itu masih mencoba menawar.
"Iya, saya tahu," bohong, sebenernya buatku itu bukan urusanku. Toh aku nggak melakukan tindakan berisiko, "Tapi di sini saya hanya field officer, petugas lapangan. Jadi untuk memperluas suatu program promosi kesehatan itu perlu approval staf di atas saya," bohong lagi. Di kota kecil ini, aku adalah manajer programnya. Julian menatapku dari balik kacamata half-framenya. Aku mencoba menantang tatapannya. Beberapa saat bertatapan, Julian yang mengalah menundukkan kepalanya. Sembunyi-sembunyi kuhembuskan nafas lega. Tanpa kusadari, debaran hatiku meningkat intensitasnya selama beberapa saat mata kami bersirobok tadi.
"Baik, akan saya coba untuk menghubungi Pak Franki," aduh! Kenapa dia menyebut nama direktur pusat lembagaku? Jangan-jangan dia kenal dengan Bapak? Mungkin saja karena dia sering diundang jadi pembicara ke mana-mana. Kalau dia ngomong dengan Pak Franki, aku akan nampak bodoh dengan menolaknya sementara aku tahu Pak Frank orang yang inovatif. Perluasan bidang promosi kesehatan pasti menggairahkannya. Aku mulai melonggarkan tawar-menawar ini.
"Ehm...baik. Nanti saya coba beri usulan ke pusat," Julian tersenyum tipis. Aku menggerutu dalam hati. Puas? Puas? Puas? Kubayangkan wajah Thukul waktu membatinnya.
Makan malam selesai dengan tanpa riak gelombang yang berarti. Negosiasi Julian denganku berhasil. Sebelum kuantar dia kembali ke hotel tempatnya menginap, aku menanyakan satu hal yang mengganjalku dari pertama.
"Maaf, boleh saya tahu mengapa Anda nampak interes dengan isyu AIDS? Anda kan seorang akademisi dan peneliti, tidak ada kaitannya dengan HIV/AIDS?" Julian menelan tegukan terakhir jus kelapa mudanya sebelum memberiku jawaban yang membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam.
"Ada sekali, Bu," dia mencari titik pusat mataku, memakunya, dan menjawab perlahan,"..saya seorang HIV positif,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar