
Aku mau menyeberang untuk menghampiri penjual sarung tangan di pinggir jalan depan kampus UNY. Aku memang melawan arus karena aku barusaja keluar dari gang rumahku. Karena aku tahu aku akan 'melawan tatanan' itulah, aku lebih hati-hati. Lampu retting kiri sudah kuhidupkan beberapa saat sebelum aku ancang-ancang menyeberang, mataku kupancang pada spion di kanan kiri motor Shogun kesayanganku. Sip, ruas jalan pertama mulai berkurang arus kendaraannya. Kupacu pelan motorku, menyamping ke kiri sampai di pertengahan jalan. Dari ruas yang satu, kulirik spion ada mobil dan motor tapi masih di batas aman. Kuteruskan memacu motorku menuju abang penjual sarung tangan. Dan sepersekian detik, kudengar teriakan
"EH EH EH EH EH!!!!!" ciit... GUBRAK!! Dan aku merasa hantaman keras di sebelah kiriku, yang memaksa badan dan motorku terhempas ke depan beberapa meter, sandal dan helmku terpental, berikut dengan hatiku. Sakit di kakiku terasa menyengat.
Aku ditabrak.
Dengan panik kukendalikan motorku, yang stangnya masih kupegangi dan belum stabil. Jangan jatuh..jangan jatuh.. and God listen. Sepersekian detik sebelum aku tersambar mobil belakang, aku berhasil menguasai motor, kunetralkan, aku bawa ke pinggir, memeriksa kakiku sekilas. Tidak ada darah, cukuplah. Lalu berpaling ke seseorang yang menabrakku. Dengan cepat memutuskan reaksi yang harus kuberikan. Pilihannya adalah:
1] Mendatangi sambil marah, secara aku sudah beri lampu sen kiri, kok masih juga nyelonong???
2] Minta maaf karena aku membuatnya menabrakku (lhoh??)
3] ...
Dan aku memilih yang ketiga. Aku mendatanginya, tidak untuk marah (karena sama-sama sakit kan) dan tidak juga untuk minta maaf. Minta maaf terlalu dini akan langsung memposisikan diri sebagai pihak bersalah. Posisi tawar menjadi rendah tanpa dikaji dulu. Jadi, aku ambil sandal dan helmku, kudatangi ibu itu (ternyata ibu-ibu), kutanyai dia dengan ramah (dengan hati masih meloncat-loncat kaget..kaget..)
"Ibu, luka tidak?" kuamati, ada sedikit lecet gores di punggung kaki kanannya. Tidak ada darah, hanya selpis kulit ari yang terkelupas. Syukurlah.
Ibu itu membuka slayernya, mukanya sudah cemberut. Gelagat tidak baik. Kuteruskan pengamatan cepat -rapid assessment- untuk melihat perlu tidaknya marah atau minta maaf.
"Barang ibu ada yang rusak?" dia tadi membawa bungkusan kardus sebesar kotak air mineral dan plastik.
"Kalau barangnya aman," ujarnya. Mulai melunak, batinku lega. Aku mengecek barangnya, utuh. Sepertinya bukan barang pecah belah.
"Motornya bisa jalan?" tanyaku, mendatangi motornya yang nampak masih gress. Lecet samar, di perisai depan, tidak ada lampu pecah, spion kanan terpuntir -tapi bisa dikencangkan, dan rem kaki yang melesak ke dalam. Kucoba straternya, bisa.
"Itu, remnya rusak, gimana nih" gerutunya sedikit. Orang yang berkerumun melihat proses penyelesaian tanpa emosi meledak, mulai memberi sumbang saran.
"Dibenerin di bengkel aja Bu, cuma limaribuan kok," Thanks Bro for helping..
"Lha mbaknya, apa yang rusak??" ujarnya, mungkin mencoba mencari komparasi, sebenarnya siapa yang lebih dirugikan dari kejadian ini. Dia atau aku. Aku melihat motornya. Principally, motorku baik-baik saja. Kakiku yang tidak baik. Nyut-nyutnya mulai terasa. Tapi supaya kedudukan 'seri', aku menunjuk full step motorku yang melesak ke dalam (psst.. sebenarnya dia melesak ke dalam karena kecelakaan tunggal yang kualami 5 bulan lalu. Untung sama-sama di sisi kiri...white lies, Bro Sist..)
"Itu, full step saja juga mlenyok," tunjukku polos. Sama-sama rugi kan Bu...
Ibu itu terdiam. Mungkin masih menimbang-nimbang.
"Ya udah saya betulin aja sendiri," putusnya. Aku bersorak dalam hati. Lalu dia menaiki motornya, kubantu menyusun bawaannya, dan distarternya motornya. Dicobanya hand rem, masih bisa. Gigi satu dimasukkan.
"Hati-hati ya Bu..," ujarku sebelum ibu itu berlalu. Kutepuk bahunya ramah.
Sepeninggal ibu itu, aku memberi selamat pada diriku sendiri. Great job, gal! Without angry, without sorry, without tears, semua rampung dengan smooth.
"Ibu itu yang salah kok mbak," ujar si abang penjual sarung tangan (yang mungkin merasa bersalah karena tahu aku menyeberang untuk beli sarung tangannya?) berusaha menunjukkan dia ada di pihakku. Aku nyengir sambil memilih sarung tangan dagangannya.
"Iya, wong aku udah pasang retting kiri kok masih nrabas," timpalku. Bagaimanapun juga aku pingin mencari pembenaran diriku, kan.. ;)
Kupilih satu, kubayar, dan kupacu motorku lagi perlahan.
Blessed day!! Aku bisa memilih peran yang enak dalam kejadian yang tidak enak, berkat omongan teman baikku tadi malam ketika kami mengobrol.
"Sil, ketika kita bisa menahan marah, itu sudah merupakan satu prestasi tersendiri untuk kita. Biarlah orang lain yang marah, asal kita tetap stay cool," thanks, Tan, kurang dari duapuluh empat jam sejak pelajaran darimu, aku sudah dicobai untuk menerapkan 'ilmu' darimu. Satu lagi pelajaran baik yang sangat bermanfaat yang kudapatkan: BELI HELM STANDAR YANG OKE! (hiks, helm ku tadi mengkhianatiku dengan meloncat dari kepalaku)..
"EH EH EH EH EH!!!!!" ciit... GUBRAK!! Dan aku merasa hantaman keras di sebelah kiriku, yang memaksa badan dan motorku terhempas ke depan beberapa meter, sandal dan helmku terpental, berikut dengan hatiku. Sakit di kakiku terasa menyengat.
Aku ditabrak.
Dengan panik kukendalikan motorku, yang stangnya masih kupegangi dan belum stabil. Jangan jatuh..jangan jatuh.. and God listen. Sepersekian detik sebelum aku tersambar mobil belakang, aku berhasil menguasai motor, kunetralkan, aku bawa ke pinggir, memeriksa kakiku sekilas. Tidak ada darah, cukuplah. Lalu berpaling ke seseorang yang menabrakku. Dengan cepat memutuskan reaksi yang harus kuberikan. Pilihannya adalah:
1] Mendatangi sambil marah, secara aku sudah beri lampu sen kiri, kok masih juga nyelonong???
2] Minta maaf karena aku membuatnya menabrakku (lhoh??)
3] ...
Dan aku memilih yang ketiga. Aku mendatanginya, tidak untuk marah (karena sama-sama sakit kan) dan tidak juga untuk minta maaf. Minta maaf terlalu dini akan langsung memposisikan diri sebagai pihak bersalah. Posisi tawar menjadi rendah tanpa dikaji dulu. Jadi, aku ambil sandal dan helmku, kudatangi ibu itu (ternyata ibu-ibu), kutanyai dia dengan ramah (dengan hati masih meloncat-loncat kaget..kaget..)
"Ibu, luka tidak?" kuamati, ada sedikit lecet gores di punggung kaki kanannya. Tidak ada darah, hanya selpis kulit ari yang terkelupas. Syukurlah.
Ibu itu membuka slayernya, mukanya sudah cemberut. Gelagat tidak baik. Kuteruskan pengamatan cepat -rapid assessment- untuk melihat perlu tidaknya marah atau minta maaf.
"Barang ibu ada yang rusak?" dia tadi membawa bungkusan kardus sebesar kotak air mineral dan plastik.
"Kalau barangnya aman," ujarnya. Mulai melunak, batinku lega. Aku mengecek barangnya, utuh. Sepertinya bukan barang pecah belah.
"Motornya bisa jalan?" tanyaku, mendatangi motornya yang nampak masih gress. Lecet samar, di perisai depan, tidak ada lampu pecah, spion kanan terpuntir -tapi bisa dikencangkan, dan rem kaki yang melesak ke dalam. Kucoba straternya, bisa.
"Itu, remnya rusak, gimana nih" gerutunya sedikit. Orang yang berkerumun melihat proses penyelesaian tanpa emosi meledak, mulai memberi sumbang saran.
"Dibenerin di bengkel aja Bu, cuma limaribuan kok," Thanks Bro for helping..
"Lha mbaknya, apa yang rusak??" ujarnya, mungkin mencoba mencari komparasi, sebenarnya siapa yang lebih dirugikan dari kejadian ini. Dia atau aku. Aku melihat motornya. Principally, motorku baik-baik saja. Kakiku yang tidak baik. Nyut-nyutnya mulai terasa. Tapi supaya kedudukan 'seri', aku menunjuk full step motorku yang melesak ke dalam (psst.. sebenarnya dia melesak ke dalam karena kecelakaan tunggal yang kualami 5 bulan lalu. Untung sama-sama di sisi kiri...white lies, Bro Sist..)
"Itu, full step saja juga mlenyok," tunjukku polos. Sama-sama rugi kan Bu...
Ibu itu terdiam. Mungkin masih menimbang-nimbang.
"Ya udah saya betulin aja sendiri," putusnya. Aku bersorak dalam hati. Lalu dia menaiki motornya, kubantu menyusun bawaannya, dan distarternya motornya. Dicobanya hand rem, masih bisa. Gigi satu dimasukkan.
"Hati-hati ya Bu..," ujarku sebelum ibu itu berlalu. Kutepuk bahunya ramah.
Sepeninggal ibu itu, aku memberi selamat pada diriku sendiri. Great job, gal! Without angry, without sorry, without tears, semua rampung dengan smooth.
"Ibu itu yang salah kok mbak," ujar si abang penjual sarung tangan (yang mungkin merasa bersalah karena tahu aku menyeberang untuk beli sarung tangannya?) berusaha menunjukkan dia ada di pihakku. Aku nyengir sambil memilih sarung tangan dagangannya.
"Iya, wong aku udah pasang retting kiri kok masih nrabas," timpalku. Bagaimanapun juga aku pingin mencari pembenaran diriku, kan.. ;)
Kupilih satu, kubayar, dan kupacu motorku lagi perlahan.
Blessed day!! Aku bisa memilih peran yang enak dalam kejadian yang tidak enak, berkat omongan teman baikku tadi malam ketika kami mengobrol.
"Sil, ketika kita bisa menahan marah, itu sudah merupakan satu prestasi tersendiri untuk kita. Biarlah orang lain yang marah, asal kita tetap stay cool," thanks, Tan, kurang dari duapuluh empat jam sejak pelajaran darimu, aku sudah dicobai untuk menerapkan 'ilmu' darimu. Satu lagi pelajaran baik yang sangat bermanfaat yang kudapatkan: BELI HELM STANDAR YANG OKE! (hiks, helm ku tadi mengkhianatiku dengan meloncat dari kepalaku)..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar