
Dua
Aku membalikkan badan dengan resah. Jarum pendek jam di mejaku sudah di angka dua, tapi mataku belum mau pejam. Setiap menutup, yang terbayang adalah wajah Julian. Padahal dia sudah pulang seminggu yang lalu, meninggalkan kesan mendalam yang entah bagaimana menawan pikiranku belakangan ini.
Julian itu seorang HIV positif.
Dia orang pertama yang mengaku langsung di depan mataku, dengan gayanya yang hmm..cukup elegan? Satu pertanyaan yang terjawab itu melahirkan rentetan pertanyaan di belakangnya. Dari mana Julian bisa tertular? Apa yang dilakukannya waktu tahu dia tertular? Bagaimana dia merespon statusnya di kesehariannya? Bagaimana dia mempublish dirinya pada teman sekantornya? Toh sekarang Julian masih kerja menjadi dosen dan peneliti, kuliah S2 nya sudah selesai (ini kutahu juga dari CVnya), kehidupan sosialnya nampak tetap matang...
Stop, Liv. Memangnya, apa yang kamu pikirkan dari seorang HIV positif? Bahwa dia kehilangan seluruh dunianya? Hidupnya selesai? Langit mendung kelabu tanpa mentari? Dikucilkan teman-teman, diusir dari tempat kerja?
Ya, itu yang 'seharusnya' terjadi pada orang HIV positif kan? Sebagai satu akibat perbuatannya sendiri, sebagai hukuman alam. Tapi kenapa hidup Julian masih baik-baik saja?? Aku tidak habis pikir. Kubalikkan badanku lagi, kuraih guling Teedy Bearku, kupeluk erat.
Ah ya... jangan-jangan Julian membohongi semua orang, menyembunyikan statusnya, lalu bersikap nothing happen. Maka dari itu, dunianya tidak berubah... Aku mengangguk puas. Keterangan ini menjawab kebingunganku. Julian pasti membohongi dunia tentang statusnya.
Tapi, kalau dia menyembunyikan statusnya, kenapa dia membukanya padaku dalam pertimbangan cepat -sekian menit saja? Aku tidak lihat kebimbangan saat dia mengatakan statusnya. Sama muatannya ketika orang mengaku 'ya, aku seorang perokok'. Ringan.
Ah, aku makin pusing. Hipotesisku bahwa Julian membohongi dunia mengabur lagi.
Kulirik jam, sudah hampir jam tiga. Dengan terpaksa kututup mataku dan sekuatnya berusaha melenyapkan bayangan Julian dan menelan segala rasa penasaranku.
Besok akan kutanyakan langsung padanya, janjiku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar