Aku terbangun, tidak dengan terkejut seperti biasanya. Hanya tiba-tiba membuka mata di tengah malam buta, menjelang dini hari. Menyadari lingkungan, aku berdebar. Ini bukan di kamarku!!
Aku melirik ke samping mencari tambahan informasi untuk otakku yang baru saja loading, dan tiba-tiba teringat. Aku tertidur di kamar Har.
Aku tersenyum, memandang wajah bayinya yang sedang tidur di bantal sampingku. Dia nampak tenang, setelah semalaman mencurahkan segala beban hatinya padaku. Di ujung matanya masih nampak airmata mengering. Kuusap perlahan, Har bergerak sedikit, lalu mengeluarkan dengkuran halus, tersenyum kecil, lalu diam lagi. Aku ikut tersenyum kecil melihat tingkahnya. Persis anak kecil. Tanpa sadar, tanganku bergerak mengusap rambut ikalnya yang dua hari lalu dicat coklat tua. Halus seperti bulu burung. Hatiku terloncat, cepat-cepat kutarik tanganku, dan beringsut turun dari tempat tidur, menuju kursi rotan di pinggir jendela.
Aku mengeluarkan rokok mildku, mengambilnya sebantang, sudah menaruhnya di sela bibir tapi segela kumasukkan lagi ke kotaknya. Har tidak suka asap rokok. Sebagai gantinya, aku membuka satu daun jendelanya. Angin dini hari menembusi celah kecil itu, membekukan wajahku. Segar. Tadi malam hujan. Mataku jadi terbuka dan pikiranku refresh.
Har curhat.
Sebelumnya, SMS putus asanya berkali-kali mampir ke cell phone yang sebenarnya sengaja ku silent karena aku mau konsentrasi mengerjakan tesis yang dikejar tenggat waktu. Tapi karena lama kelamaan aku menangkap nada memelas dari rentetan kata-katanya, aku menutup laptop dan segera meluncur ke rumah kontrakannya.
Sampai di pintunya, Har langsung menghambur ke pelukanku. Dia menangis seperti anak kecil, tidak sesuai dengan KTPnya yang mengatakan bahwa dia ada di awal kepala tiga. Kutuntun dia ke kursi, kuambilkan minum, dan dalam sesenggukannya dia bercerita.
"Bundaku minta aku menikah, Don," dia membesit ingusnya. Kuulurkan sekotak tissue.
"Ini sudah kali kelimapuluh sekian," dia mencoba menarik nafas, mengalahkan isakannya.
"Bunda nggak bilang sebabnya kenapa selalu minta aku nikah. Tapi aku tahu, Bunda sakit. kemarin Oom Rudi nggak sengaja keceplosan kalau dokter sudah vonis Bunda kanker mulut rahim stadium empat..." aku merangkulnya, menguatkan. Dia terguguk lagi. Har sangat menyayangi Bundanya, apalagi dia anak tunggal kesayangan Bundanya juga.
"Lalu, apa yang buat kamu bingung?" tanyaku halus. Har melirikku dari mata bengkaknya.
"Kok pakai nanya? Siapa yang mau sama aku, Don? Aku banci! Dan kurasa Bunda mulai tahu, makanya Bunda selalu bilang dia mau cucu dari aku..,"
"Banci? yang melabel dirimu ya kamu sendiri, Har sayang..," ujarku mencoba meredamnya.
"Bukan aku! Mereka!! Ketika aku mulai naksir cewek, mereka selalu menyingkir dan menertawaiku di belakang. Mereka bilang aku bencong..,"
Aku menarik nafas, dan menghembusknya perlahan. Bulan tertutup awan selapis, dan segera nampak lagi. Di ujung sana, terdengar degukan burung malam entah apa namanya.
Aku kenal Har tiga tahun yang lalu, di sebuah kafe lukisan. Aku sangat suka lukisan, dan sore itu aku terpaku di depan lukisan koleksi baru -dari pelukis baru pula. Joker, atas pria, bawah wanita. Hatiku tergetar. Karena ingin menikmatinya sedikit lebih lama, aku memesan black coffee dan duduk di meja seberang lukisan itu, sudut pandang yang oke sekali. Sedang termenung, sebuah suara bariton halus membuyarkan lamunanku. Dia ingin juga duduk di meja itu, jadi aku menyilahkan dia duduk di seberangku. Lalu, bersama, kami menikmati lukisan itu.
"Hidup, dan pilihan," celetuknya pendek setelah kami terdiam lama.
"Ya, dan kadang yang temaram selalu disangka buruk. Padahal itu yang sesuai dengan kita," balasku tanpa melepas pandang dari dinding.
"Orang memandang kita dengan standarnya, dan kita jadi terpaksa mengikuti tatanan sosial itu," dia menghela nafas berat.
"Padahal, beda bukan berarti berdosa," sambungku, mau menyalakan rokok tapi pria di depanku terbatuk halus. Aku mendongak memandangnya untuk pertama kalinya. Sepasang mata sayu dan dalam yang dinaungi alis tebal terangkat meminta maaf.
"Maaf, saya asma. Alergi asap," dia tersenyum rikuh lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Harna Surya, panggil Har," aku meletakkan rokokku, menyambut tangannya.
"Donatilla, panggil Don,"
Menurutku, Har bukan banci. Dia laki-laki, namun lebih lembut. Sisi feminisnya lekat dan dia berdamai dengan itu, setelah puluhan tahun hidupnya. Dia pun masih tertarik dengan lawan jenisnya, dan tidak pernah berdandan perempuan. Once more, dia hanya lembut, itu saja. Namun lingkungannya kadang terlalu kejam dengannya, memberinya label yang membuat Har merasa berdosa karena bersikap feminin. Dia memang spend time lebih banyak di salon untuk merawat dirinya. Kuku, rambut, kulitnya. Dan kupikir, tidak ada yang salah dengan itu.
Perlahan, aku menoleh mencari kaca dan mendapati bayangan diriku terpantul. Kuelus rambut cepakku.
"Dona lesbi!!"
Terngiang teriakan Lia. Peristiwa itu sudah belasan tahun lewat, tapi rasanya masih segar. Aku masih ingat panasnya mukaku karena malu dan marah, cibiran teman-teman yang mengelilingi toilet wanita, mencegatku di pintu, dan pengadilan tak formal yang kudapat setelah itu.
Aku hanya ingin menolongnya menutup pintu WC yang terbuka karena kuncinya rusak.
"Dia mau mengintip saya Pak!! Dia mau memperkosa saya!!" jerit Lia histeris (what?? Memangnya aku punya penis?)
Padahal, Lia yang lesbi. Dia menyukaiku setahun ini tapi aku menolaknya secara halus. Tapi karena aku yang berpenampilan seperti laki-laki dan Lia seperti putri keraton, akulah yang dipersalahkan.
Kejadian itu membuatku menjadi-jadi. Aku semakin menyepi dalam duniaku. Merokok, minum, potong cepak, dan yang terakhir aku membeli motor cowok.
Tapi aku bukan lesbi. Aku menyukai Ryo, Luke, Vic, yang dibalas dengan cibiran.
"Aku bukan homo, tau," balas mereka. Aku terluka.
Karena itu, aku tahu perasaan Har. Untungnya, Mama tidak pernah memaksaku menikah.
Ada apa dengan dunia? Mereka memakai standarnya sendiri untuk menilai penghuninya, memakai standar 'yang paling sering muncul adalah yang normal'? Dan di luar itu namanya deviasi? Dianggap abnormal dan aneh? Padahal setiap manusia punya standarnya sendiri, yang membuatnya memutuskan hidupnya akan dibawa ke mana, seperti apa, dijalani dengan cara bagaimana, dan ada nilai sendiri yang dipatri di atasnya. Kadang nilai itu tidak sesuai dengan 'anutan umum' atau 'nilai sosial', dan kadang tidak ada tempat untuk keunikan itu.
Bulan masuk, dan semburat ufuk timur mulai tampak diiringi kokokan ayam terdengar samar.
Aku menegakkan punggungku. Mataku terasa panas, dan aku cepat-cepat mengerjapkannya. Sudah beberapa tahun Dona tidak menangis.
Aku beranjak dari kursi dan bersirobok dengan tatapan dalam Har. Dia sudah bangun.
"Hei, dah bangun?" sapaku, antara rikuh dan panik menyembunyikan airmataku. Har memaku pandangan tepat ke mataku. Kuduga, dia sudah beberapa saat terbangun.
"Nyenyak tidurnya?" tanyaku lagi, mencoba membuatnya buka suara. Dia mengangguk, tersenyum. Aku tertunduk, salah tingkah.
Jam berdetak.
"Don, sini..," dia mengulurkan tangannya, dan tangan satunya masih memeluk bantal. Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Dia mengangkat tubuhnya, duduk di depanku. Ayam berkokok lagi, angin pagi menembusi jendela yang tadi belum kututup.
"Kamu cantik," senyumnya. Tangannya menelusuri pipiku. Aku memejamkan mata, dadaku berdebar sangat kencang, debaran yang akhir-akhir ini terasa jika bertemu Har.
"Aku lupa ucapkan satu hal tadi malam, keburu tidur karena kecapaian," Har menatapku lembut.
"Dan saat ini aku siap menerima konsekuensinya," lanjutnya. Aku menahan nafas.
"Donatilla..,"
"..aku jatuh cinta padamu. Mau menikah denganku?" aku terpaku.
"Karena Bundamu?" tanyaku bergetar. Dia menggeleng.
"Bunda hanya katalis supaya aku berani jujur ungkapkan rasaku. Aku sudah memendamnya tahunan ini, dan bagiku ini berat karena makin hari perasaan itu makin besar,"
Air mata mengalir menuruni pipiku. Debaran dadaku sekarang ditingkahi musik kecil dan kelegaan luar biasa, menghangatkan badanku.
Aku mengangkat wajah, menemukan keteduhan di kedalaman mata Har yang tanpa prasangka.
"....yes, I do," bisikku di sela hembusan angin pagi dan sinaran matahari.
Senin, Maret 31, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Thanks for visiting ^_^ ... salam kenal juga Ries!
Posting Komentar