"Mak, di pohon itu Anang dulu sangkut," cerocos anak kecil lima tahun ketika kami lewat rimbunan semak rumbia. Mak Cut terdiam, menggandeng makin erat.
"Kenapa Anang masih ingat? Itu kan sudah lama sekali? Anang masih kecil pula," sahutku ingin tahu. Mak Cut melirikku, menyuruhku menghentikan tanya lewat tatapannya. Maaf, sudah terlanjur terucap, jawabku lewat pandangan juga.
"Anang sering mimpi, dan kadang nampak waktu itu. Air naik, gelap kotor seperti ular kobra mau mematuk..," tangannya memeragakan tukikan kobra, "lalu ada suara keras, Tante. Boom!! Orang berlarian, Anang terpisah dari Mak, Anang pingsan, dan bangun-bangun sudah sangkut di pohon..," kulirik Mak Cut, wajahnya pias, matanya menerawang. Aku menduga, ingatannya sudah berada di tiga tahun lalu saat tsunami menyapu desa mereka.
"...sebelah Anang nampak babi hutan, Tante.. besar seperti kerbau kakek. Taringnya besar, tajam, Anang hampir nangis. Tapi babi itu nggak lukai Nang, Tante. Dia meringkuk, badannya lindungi Anang dari air bah yang kadang datang," Anang tampak mengenang jasa babi itu.
"..sekitar Nang, terhanyut mayat-mayat.. ada ular juga, ada kambing.. semua campur Tante..,"
Aku merinding mengikuti penuturannya, imajinasiku membentuk kilasan film kisah Anang.
"Nang duduk di rumbia tiga hari..,"
"Makannya gimana Nang?" tanyaku penasaran. Anang menyeringai.
"Ada kulkas hanyut deket Nang, ketika Nang buka, isinya komplit. Ada apel, roti, keju, air... Itu kiriman Alloh," dia tersenyum. Dadaku berdesir.
"Alhamdullilah.. kulkas orang kaya, Tante.. kalau meninggal pasti dia masuk syurga karena membolehkan kulkasnya memberi makan Nang tiga hari," ujarnya. Mak Cut mempercepat jalannya, Anang mengikuti agak kepayahan. Tangan kecilnya menggenggam keranjang bunga tabur. Kubantu dia, dia menolak.
"Sudah sampai, Nang. Ayo diletak," kata Mak Cut lembut, sedikit terbata. Anang menurut, dia mencarub bunga itu dan menaburkannya di sekitar pohon penyelamatnya. Lalu dia bersila dan berdoa cukup lama. Aku turut di belakangnya.
"Anang itu.. sejak tsunami, dia menjadi sangat dewasa. Kadang saya takut, karena dia seperti bukan anak kecil," desah Mak Cut di sela perjalanan pulang. Anang tertidur di bahunya, kecapaian menempuh perjalanan dua kilometer.
"Itu pendewasaan batin, Mak, harusnya disyukuri," timpalku sambil menyembunyikan sengalan nafas. Ternyata beberapa bulan tidak olahraga mempengaruhi kebugaranku.
"Iya.. kadang, Anang bisa mengusir roh halus," nada bangga terselip di suara Mak Cut.
"Anang dijuluki Kyai Kecil. Orang pada berobat kepadanya,"
"Wah, saingan saya dong Mak," candaku. Aku dokter Puskesmas di dekat rumah Mak Cut.
Mak Cut tersenyum.
"Tapi kadang saya pingin anak saya kembali. Dia baru lima tahun.. waktu bermainnya masih panjang...,"
Aku menoleh memandangi wajah damai Anang. Dia sedang tersenyum dalam tidurnya.
Dan ya, wajahnya sangat bijak.
Tuhan punya rencana besar untuknya.
Senin, Maret 31, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
Tulisannya bagus,...
Salam kenal...
Thanks, Bagus.. salam kenal juga ^_^
Posting Komentar